Pandangan dan Pemikiran Dr. Ir. Herman Darnel Ibrahim, M.Sc
Random header image... Refresh for more!

Biografi Herman Darnel Ibrahim (4)

Tantangan Tugas dan Keberhasilan sebagai Direktur Transmisi dan Distribusi PT PLN

Saya menjadi Direktur PLN selama satu periode penuh yaitu dari 6 Maret 2003 sampai 10 Maret 2009. Sebagai Direktur yang membidangi transmisi dan Distribusi saya bertanggung jawab terhadap operasional penyediaan listrik. Tantangan yang saya hadapi adalah memaksimalkan pelayanan dengan sarana yang minim. Minimnya sarana karena terbatasnya pertumbuhan investasi sementara penjualan listrik tetap tumbuh tanpa dapat dibatasi.
Diantara beberapa persoalan besar yang saya hadapi adalah protes sebagian warga yang tinggal dibawah Saluran Transmisi Tegangan Ekstra Tinggi [SUTET] yang mengklaim SUTET berbahaya terhadap kesehatan. Mereka menuntut lahan yang dilewati SUTET dibebaskan dan untuk itu mereka melakukan aksi Jahit Mulut dan ber demo sampai ke Istana. Dengan berkoordinasi dengan jajaran Departemen ESDM, DPR Komisi 7, Lembaga Pendidikan, Departemen Kesehatan, dan Komnas HAM masalah ini dapat didinginkan, kemudian atas prakarsa saya istilah SUTET yang terkesan menakutkan diganti dengan [SUTETI].

Beberapa karya yang menonjol selama saya menjadi Direktur PLN adalah, Berhasil menuyususn Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik [RUPTL], yang sebelumnya dibuat 5 tahunan saya membuatnya rolling 10 tahunan, dan yang sebelumnya tidak dipublikasi, saya membuatnya terpublikasi [terbuka], yang sebelumnya hanya ada RUPTL untuk nasional, saya berhasil mewujudkan adanya RUPTL Regional [per Region]. Selain itu dibawah manajemen saya bidang transmisi berhasil melakukan Pemeliharaan Transmisi SUTETI secara Hot Line, yaitu dengan menyentuh langsung tanpa dipadamkan. Persiapan dilakukan oleh PLN P3B Jawa Bali dan training dilakukan di Semarang, New Zealand dan di Gandul Jawa Barat. Akhirnya membuahkan hasil, dan hal ini menjadi sejarah baru karena Hot Line yang sejak awal tahun 1980an telah direncanakan baru terwujud pada 2004 dan diresmikan oleh Menteri ESDM pada peringatan Hari Listrik Nasional 27 Oktober 2004.

Beberapa karya nyata lainnya adalah penyelesaian rampungnya jaringan interkoneksi transmisi sistem 150 kV Banda Aceh-Belawan yang dikerjakan dalam tahun 2003. tantangan disini adalah menghadapi aktivitas GAM. Sebelum memulai pembangunan kembali proyek ini saya berangkat ke Banda Aceh dan bertemu dengan Gubernur Abdulah Puteh dan juga Panglima Darurat Militer Aceh Brigjen Endang Suwarna. Walaupun ada pertanyaan apakah kalau dibangun tidak akan dibongkar lagi oleh GAM, namun pembangunan diteruskan dan berhasil dirampungkan pada awal 2004. Setelah itu pasokan listrik Aceh membaik karena terbantu pasokan dari PLTU Belawan. Paralel dengan pembangunan transmisi Aceh Sumut dirampungkan pula interkoneksi sistem 150 kV Sumbar Riau dengan Jambi pada sekitar Februari 2004, kemudian disusul dengan rampungnya interkoneksi Sistem Sumsel Lampung dengan Sistem Sumabar Riau Jambi pada 4 Juli 2004. Interkoneksi tersebut sudah dimulai sebelum tahun 2000, namun banyak maslaha dilapangan. Untuk penyelesaiannya saya sampai turun ke lapangan dan memimpin rapat koordinasi di Lubuk Linggau. Selesainya interkoneksi sistem Sumatera bagian Selatan demngan sistem Sumatera bagian tengah, membantu baik keandalan pasok dan juga keekonomian biaya operasi, karena berkurangnya pemakaian BBM.

Proyek besar yang juga terseok seok penyelasaiannya adalah jaringan transmisi SUTETI 500 kV Kediri-Yogya-Tasikmalaya-Depok. Pada awal saya masuk yang baru selesai dan diresmikan adalah Gardu Induk 500 kV Kediri. Transmisi Jawa jalur selatan ini mulai dibangun tahun 1998, namun belum ada yag selesai ketika saya menjadi Direkturc pada bulan Maret 2003. Transmisi ini sangat penting karena menyalurkan daya listrik dari Timur khususnya dari pembangkit Paiton ke Barat. Utamanya penyelesaian transmisi ini akan menghemat biaya lebih 15 Milyar perhari karena menggantikan energi dari pembangkit minyak dengan energi dari pembangkit batubara. Sejak saya menjadi Direktur proyek besar [Biaya dari Paiton sampai Depok USD 335 juta] dan strategis ini ini saya pantau langsung progresnya. Kendala di lapangan adalah hambatan dari warga yang tidak mengijinkan lahannya dilewati oleh SUTETI. Untuk kelancaran saya ikut turun bertemu dengan Bupati Bantul, Bupati Klaten dan bahkan sampai ke Gubernur DIY [Sultan Yogya]. Bersama Pimpro juga dilakukan koordinmasi dengan jajaran Kepolisisan dan Kejaksaan setempat. Akhirnya membuahkan hasil, Transmisi Yogya Depok rampung dan saya resmikan pada 17 Agustus 2005. Kemudian Transmisi SUTETI 500 kV Tasikmalaya Depok rampung dan sinkronisasi dilakukan pada 15 Agustus 2006.

0 comments

There are no comments yet...

Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment