Pandangan dan Pemikiran Dr. Ir. Herman Darnel Ibrahim, M.Sc
Random header image... Refresh for more!

Biografi Herman Darnel Ibrahim (3)

Membangun Karir: Bangun Profesionalisme Dari Awal, Belajar Tak Pernah Berhenti, dan Kalau Kita Bertanam Kita Akan Memanen

Ketika pertama kali masuk bekerja di PLN Pusat, saya tidak diberikan training sebelumnya dan juga tidak diberikan uraian tentang apa yang harus dikerjakan. Kepada saya diberikan buku kontrak pembangunan jaringan Transmisi dan Gardu Induk. Satu-satunya arahan adalah bahwa tugas saya adalah untuk daerah Sulawesi yang ketika itu ada proyek pembangunan Transmisi dan Gardu Induk di Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan dengan biaya dari ADB. Kontrak-kontrak di PLN dibuat dalam bahasa Inggris. Hampir semua pekerjaan dibantu oleh Konsultan yang berasal dari luar negeri sehingga penguasaan Bahasa Inggris sangat penting. Tugas-tugas sebagai staf mengikuti rapat dengan kontraktor dan konsultan, surat menyurat yang umumnya mengenai supervisi teknis pembangunan proyek transmisi.

Kenyataan setelah bekerja di PLN walaupun gaji cukup untuk hidup namun belum memadai untuk hidup sejahtera. Pegawai yang lebih dulu masuk dari saya umumnya masih naik bus ke kantor. Untuk bisa sejahtera harus ada penghasilan tambahan dan yang paling mudah saya kerejakan adalah mengajar. Berbekal pengalaman mengajar di Bimbingan Tes ketika di ITB, saya langsung melakukan kontak dengan teman se asrama yang bekerja di Jakarta dan mengajar di Bimbingan Test. Saya langsung diterima mengajar di salah satu Bimbingan Tes yang cukup dikenal ketika itu. Karena saya bekerja di dua tempat maka yang paling diperlukan adalah kemudahan gerak. Untuk itu yang terbaik adalah memiliki mobil. Karena sudah ada tabungan dan penghasilan tambahan yang menjanjikan saya berani meminjam uang untuk kendaraan dan pada pertengahan tahun 1979 saya sudah memiliki mobil pertama.

Dengan modal jiwa saudagar saya menangkap bahwa beberapa teman yang sama mengajar dengan saya tidak begitu puas dengan kesejahteraan sebagai pengajar yang menerima honor dan tidak mendapat pembagian laba. Lalu saya berinisiatif mengumpulkan mereka. Setelah beberapa kali rapat pada akhir tahun 1979, saya dengan teman-teman tersebut mendirikan Bimbingan Test bernama SKEPS. Kami mendirikan sebuah yayasan yang menangani Bimbingan Tes tersebut, saya menjadi Ketua Yayasan dan teman saya yang lain mengurus manajemen usaha Bimbingan Tes. Setelah itu, teman-teman saya yang semula hanya menerima honor mulai menerima pembagian hasil sisa usaha. Tahap pertama yang belum punya mobil membeli mobil dan yang sudah punya mengganti dengan yang lebih layak. Walaupun itu kerja sampingan penghasilannya adalah yang utama karena gaji sebagai pengajar dan pembagian hasil usaha mencapai lebih dari 10 kali gaji saya di PLN ketika itu.

Pada umumnya teman-teman saya yang ikut usaha Bimbingan Test adalah pegawai negeri atau pegawai BUMN seperti saya. Kami pagi bekerja sampai jam 14 [ketika itu hari kerja 6 hari per minggu] dan jam 15.00 WIB sampai jam 18.00 WIB mengurus usaha Bimbingan Tes tersebut. Hasil dari Bimbingan Tes tersebut seingat saya memberikan honor mengajar sekitar 3 sampai 4 kali gaji saya di kantor dan pembagian sisa hasil usaha yang dibagi setiap 3 bulan, rata-rata sebulan mencapai 6 sampai 8 kali gaji kantor. Operasi yang saya lakukan sebagai pengajar Bimbingan Tes saya usahakan tidak diketahui oleh atasan saya di kantor karena saya tetap mengutamakan karir saya di PLN. Komunikasi dari kantor Bimbingan Tes terjaga sehingga tidak ketahuan secara terbuka. Sejak awal kami semua meniatkan Bimbingan Tes tersebut hanyalah untuk sampingan sehingga kami juga cepat dapat hidup layak seperti mereka yang bekerja di perusahaan minyak.

Ketika saya masuk PLN saya dapati banyak sekali proyek-proyek bantuan Perancis, sehingga banyak pula kontraktor dan konsultan Perancis bekerja di PLN. Melihat situasi itu mulai pertengahan tahun 1979 saya mengikuti kursus bahasa Perancis. Kursus berlangsung 3 kali seminggu masing-masing 2 jam pada malam hari dari jam 19.00 WIB sampai dengan jam 21.00 WIB. Ketika itu bahasa Inggris saya, sementara saya anggap sudah mencukupi untuk mendukung tugas saya, sehingga saya memilih les Bahasa Bahasa Perancis dulu. Dengan begitu saya menjadi semakin sibuk dan biasanya kalau saya pulang kerumah saya sering langsung tertidur sambil duduk menonton Dunia Dalam Berita TVRI.

Di kantor saya menjaga semaksimal mungkin agar saya selalu dapat men deliver hasil kerja yang baik. Saya usahakan untuk menguasai informasi tentang pekerjaan sehingga jika sewaktu-waktu ditanya saya sudah siap. Pekerjaan surat-surat saya kerjakan pada kesempatan petama sehingga setiap disposisi atasan yang tidak memerlukan analisa dan perhitungan saya kerjakan secara instan. Ketika itu teman-teman sekerja saya umumnya mengerjakan biasa saja tidak cepat sehingga saya segera menangkap dari atasan saya, bahwa saya telam memperkenalkan suatu perubahan di lingkungan kerja kami yaitu menyampaikan hasil kerja secara instan.

Pada tahun 1983 saya mulai jenuh mengerjakan pekerjaan yang sama setelah beberapa tahun. Saya berinisiatif menemui atasan dan menyampaikan keinginan saya untuk bekerja di lapangan baik di proyek ataupun dalam bidang operasi. Atasan saya berusaha menenangkan saya untuk tetap betah dan saya diberitahu akan ditugaskan mengikuti training selama 10 bulan di Inggris. Pada awal Maret tahun 1983 saya berangkat ke Inggris untuk training selama 10 bulan dalam bidang Desain Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi [SUTETI]. Saya meninggalkan Bimbingan Tes dan kursus bahasa Perancis yang ketika itu saya sudah pada kelas Niveau 2 atau setingkat Advance.

Saya sempat menyampaikan permintaan ke atasan saya kalau ada kesempatan sekolah S2 saya biar menunggu dulu dan bersedia tidak berangkat saat itu. Atasan saya mengatakan berangkat saja dulu dan kalau nanti ada kesempatan bisa sekolah lagi. Saya sementara harus berpisah dengan istri dan anak saya Putti yang sedang lucu-lucunya berumur 2,5 tahun. Keluarga saya kemudian menyusul dengan pertimbangan memperoleh suatu pengalaman tinggal jauh di negara orang dengan kultur yang berbeda sekali. Kesempatan training saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Saya banyak sekali belajar terutama tentang Transmisi Gardu Induk dan Perencanaan Sistem. Bidang yang saat ini saya pimpin di PLN.

Pada bulan Desember tahun 1983 training selesai. Di suatu pagi musim dingin tersebut kami meninggalkan New Castle Inggris kembali ke tanah air. Saya sempat mengintip hasil evaluasi training saya, yang diberi pujian bahwa saya memiliki kemampuan dan kompetensi setara dengan engineer Inggris yang seumur dan sepengalaman. Sekembali di tanah air saya diangkat jadi Kepala Seksi dan karena sudah ketinggalan kelas, Les Bahasa Perancis tidak saya teruskan saya malah merasa perlu ikut kursus Bahasa Inggris. Segera saya mendaftar di The British Council Jakarta, saya mengambil kursus advance yaitu kelas Practical Writing tentang tulis menulis surat, memo dan notulen. Selesai itu saya mengambil kursus English for International Cooperation yang mengajarkan bagaimana teknik berbicara dalam rapat, presentasi dan juga dalam perundingan atau negosiasi. Kemudian saya juga mengambil kursus Report Writing tapi tidak dapat saya selesaikan karena harus ke luarb negeri lagi.

Pada awal tahun 1985 atasan saya menerima pemberitahuan ada training bidang Operasi Sistem yang diselenggarakan di Paris, Perancis. Persyaratannya harus sudah bisa bahasa Perancis. Di tempat saya tidak ada alternatif lain walau saya belum lama kembali dari Inggris, maka saya berangkat lagi untuk waktu 6 bulan. Kali ini saya harus meninggalkan 2 anak. Anak kedua saya Ranni baru berumur 6 bulan, sehingga istri saya memutuskan tidak ikut. Di Perancis saya mendalami tentang Sistem Pengendalian Ketenagalistrikan berbasis computer. Suatu teknologi yang baru dikembangkan dan belum banyak pegawai yang mendalaminya. Sekembalinya saya sempatkan mengubah tiket untuk lewat Mekah melaksanakan Ibadah Umroh. Saya mulai kembali masuk kantor pada sekitar bulan September tahun 1985. Secara pengetahuan ketika itu saya sudah banyak sekali belajar. Secara faktual tempat yang lebih tepat bagi saya bekerja di bidang operasi atau di proyek.

Saya coba mencari informasi ke Kepegawaian. Kebetulan saya sempat menjalin komunikasi yang baik dengan Direktur Muda Kepegawaian Bapak Dharmono ketika beliau mengunjungi para trainee di Inggris tahun 1983. Saya diberi signal nanti akan ditempatkan sebagai Kepala Unit Pengatur Beban di Palembang yang akan selesai tahun 1986. Pada suatu hari di bulan Desember 1985, bekas atasan saya Bapak Ontowiryo mencari saya. Saya surprise beliau menanyakan keingin saya untuk program S2 di Inggris yang pernah saya minta ketika tahun 1983 ditugasi mengikuti training. Kata beliau ada staf yang sudah ditunjuk tapi mengundurkan diri dan beliau diminta rekomendasi menunjuk pengganti dengan syarat sudah kursus dan disetujui oleh British Council. Tanpa fikir panjang lagi saya menerimanya. Untuk kedua kali saya mengalami pembuktian bahwa rumus “Siapa yang Bertanam Akan Memanen”. Pertama untuk kursus di Perancis, yang saya peroleh karena telah berinisiatif les bahasa Perancis dan menguasai bahasa Perancis dan kedua buah hasil saya kursus Bahasa Inggris di British Council yang malah saya lakukan sekembali dari Inggris memberikan kesempatan ikut program beasiswa S2.

Saya berangkat ke Inggris pertengahan tahun 1986, dua bulan kemudian keluarga saya menyusul. Kali ini saya benar-benar menerapkan strategi belajar yang saya peroleh di ITB. Sekolah saya lancar sehingga selesai paling cepat diantara 6 mahasiswa Indonesia yang sama-sama satu kelas dengan saya. Ketika saya masuk dalam masa tugas belajar di Inggris, saya sudah menerima SK promosi menjadi Kepala Unit Pengatur Beban Sistem Sumatera Selatan. Sebelum kembali ke Indonesia saya mengambil kesempatan training Management for Engineer and Scientist yang disponsori oleh British Council. Pada awal tahun 1988 saya kembali ke Indonesia untuk melaksanakan tugas saya yang baru di Palembang. Dalam masa 9 tahun pertama saya bekerja, saya memperoleh kesempatan belajar di luar negeri selama 36 bulan. Pengalaman saya selama 9 tahun pertama telah memberikan bekal yang lebih dari cukup bagi saya untuk menjadi professional di PLN.

Karir saya selanjutnya berjalan lancar. Pada tahun 1990 saya mendapat tugas rangkap menjadi Kepala PLN Cabang Tanjung Karang yang ketika itu mengalami krisis pasokan daya sangat parah. Saya dengan dukungan PLN Wilayah dan Pusat berhasil memulihkan pasokan tersebut dan pada tahun 1991 saya diangkat menjadi Deputi Pemimpin Bidang Pengusahaan PLN Wilayah IV Sumatera Bagian Selatan. Kemudian pada tahun 1994 saya promosi ke Wilayah yang lebih besar sebagai Deputi Perencanaan PLN Distribusi Jawa Timur. Selama 2 tahun bertugas di Jawa Timur saya kembali ke ”Bengkel” mengikuti kursus Kader Pimpinan PLN di Jakarta selama 3 bulan dan awal Januari 1995 langsung dilanjutkan lagi Kursus Integrated Resource Planning selama 3 bulan di San Fransisco.

Pada akhir tahun 1995 saya mendapat SK pindah lagi ke Anak Perusahaan PLN yang baru dibentuk yaitu PT PJB I yang menangani 9000 MW pembangkit di Jawa. Saya ditunjuk sebagai Manajer Divisi Perencanaan Korporat. Pada posisi tersebut saya banyak mendapat pengetahuan dan pengalaman dalam perumusan Visi dan Misi Perusahaan dan Rencana Jangka Panjang Perusahaan. Tahun 1997 saya bersama Eddie Widiono [Eks Dirut PLN] merintis pendirian Anak Perusahaan PT Cogindo Daya Bersama yang bergerak dalam pelayanan listrik dan energi di luar grid PLN dan penyediaan cogeneration. Pada tanggal 15 April 1998 Perusahaan Cogindo resmi berdiri dan saya ditunjuk menjadi Direktur Utama yangn pertama. Saya tidak lama di Cogindo karena akhir tahun 1998 saya ditunjuk menjadi Direktur Pengembangan dan Niaga PT PJB I menggantikan Eddie Widiono yang di promosikan menjadi Direktur PLN. Karir saya terus berjalan lancar dan pada tahun 2000 PT PJB I berganti nama menjadi PT Indonesia Power dan saya ditunjuk menjadi Direktur Sumberdaya Manusia. Jabatan ini adalah yang paling menantang dan paling menarik dari semua jabatan yang pernah saya duduki. Kalau pada jabatan sebelumnya saya bekerja dengan sistem meja bersih, maka sebagai Direktur SDM saya tidak bisa membuat keputusan dengan cepat seperti keputusan teknis karena keputusan yang dibuat adalah menyangkut manusia. Keputusan tentang SDM harus dibuat dengan cermat dan hati-hati karena menyangkut rasa adil.

Masa saya membangun karier dari tahun 1995 dibarengi pula dengan suatu tugas tambahan yang saya ciptakan sendiri yaitu mengikuti program S3 di ITB sejak tahun 1995. Saya harus menyisihkan waktu akhir pekan dan cuti tahunan untuk penelitian S3 saya. Pada tahun 2003 saya diangkat menjadi Direktur Transmisi dan Distribusi PT PLN. Tantangan jabatan saya semakin berat, waktu tersedia semakin sedikit. Ketika itu saya sudah mau “melempar handuk” untuk mengakhiri studi S3 saya karena rasanya saya tidak memiliki waktu lagi. Atas dorongan promotor saya Profesor Saswinadi, saya batal berhenti dan meneruskan perjuangan. Pada akhir tahun 2003 saya mendapat ultimatum dari ITB untuk menyelesaikan Disertasi saya pada Agustus 2004 dan setelah itu akan dinilai apakah bisa promosi atau tidak atau apa perlu diperpanjang satu tahun. Akhirnya dengan kerja keras selama tahun 2004 saya berhasil menyelesaikan Disertasi dan lulus sebagai Doktor pada tanggal 25 September tahun 2004. Saya di wisuda pada 9 Oktober 2004 oleh Rektor ITB Kusmayanto Kadiman, teman seangkatan saya dan sahabat saya. [Eks Menristek].

0 comments

There are no comments yet...

Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment