Pandangan dan Pemikiran Dr. Ir. Herman Darnel Ibrahim, M.Sc
Random header image... Refresh for more!

Biografi Herman Darnel Ibrahim (2)

Masa Mahasiswa: Sukses Perlu Strategi dan Belajar Menerima Kegagalan

Pada tahun pertama di ITB angkatan saya yaitu yang masuk tahun 1973 harus mengalami pergeseran tahun ajaran yaitu dari Januari ke Agustus. Selama periode perubahan tersebut kami belum masuk pada kurikulum tingkat I, tapi kami mengikuti program matrikulasi dan orientasi kemahasiswaan. Dengan begitu kami kehilangan waktu satu semester. Mulai bulan Aguistus 1973 kami masuk tahun ajaran tingkat I dalam suatu program Tingkat Pertama Bersama atau TPB. Selama 2 semester di TPB kami seangkatan sebanyak lebih 1000 mahasiswa harus berkompetisi membuat Indeks Prestasi [IP] terbaik yang selanjutnya akan menentukan pilihan jurusan. ITB menetapkan pilihan jurusan ditentukan berdasar IP dan hasil Psikotes. Kalau jurusan yang dipilih sesuai dengan rekomendasi Psikotes dapat tambahan nilai 10% dari IP. Tingkat pertama yang tadinya saya harapkan akan dijalani dengan santai ternyata harus dilalui dengan perjuangan.

Dalam memilih jurusan ketika itu saya mulai menyadari bahwa itu suatu keputusan besar yang akan banyak menentukan jalan hidup saya berikutnya. Oleh karena itu saya harus memutruskannya dengan cermat. Setelah mempelajari informasi tertulis dan bertanya kesana kemari akhirnya saya mempertimbangkan 3 pilihan yaitu Elektro, Mesin dan Arsitektur. Jika melihat kesukaan saya ketika kecil yang sudah terbiasa membuka pasang mesin jahit dan sepeda ketika di SD maka jurusan Mesin adalah yang paling sesuai dengan bakat saya. Kalau melihat kepada kesukaan saya pada pelajaran Stereometri, Goneometri ketika di SMA dan ketertarikan saya kepada bangunan dan penataan ruang maka saya sebaiknya memilih jurusan Arsitektur. Saya tidak memilki fakta yang dapat dijelaskan untuk memilih Elektro. Saya tertarik kepada Elektro ketika itu lebih karena melihat kenyataan bahwa kampung halaman dan kecamatan saya belum berlistrik dan bahkan listrik di ibukota kabupaten yaitu Payakumbuh masih terbatas dan menyalanya belum teratur. Saya membayangkan kalau saya jadi insinyur listrik mungkin saya kelak dapat terlibat melistrikinya. Hal lain yang membuat saya tertarik masuk elektro karena ada informasi bahwa Elektro adalah jurusan yang paling banyak peminatnya dan paling tinggi passing grade nya. Akhirnya setelah menganalisa faktor-faktor peluang bekerja dan masa depan dan juga adanya tantangan kompetisi akhirnya saya memutuskan memilih jurusan Elektro.

Menghadapi kenyataan tersebut walau belum matang, ketika itu saya sudah mulai berfikir tentang strategi belajar dan sukses. Didorong oleh tuntutan saya harus dapat IP yang cukup untuk masuk Elektro, maka satu hal penting yang saya buat dan dapatkan ketika itu adalah bagaimana strategi belajar yang efektif. Supaya hemat waktu belajar saya menetapkan strategi yaitu; usahakan menangkap esensi tujuan dan isi kuliah secara garis besar pada awal; usahakan menangkap materi semaksimal mungkin waktu kuliah; dan pilih duduk di barisan depan. Secara umum strategi tersebut cukup berhasil dan saya memperoleh nilai sesuai harapan. Untuk mendapatkan hasil psikotes yang menyarankan jurusan Elektro saya menggunakan filosofi hidup berakal mati beriman, saya pasang strategi mengarahkan bagian-bagian tes yang berupa karangan dan gambar kepada hal-hal detil tentang listrik. Ternyata strategi tersebut juga berhasil dan saya direkomendasikan masuk elektro.

Pada pertengahan tahun 1974, setelah akhir kuliah TPB, saya ternyata berhasil diterima di jurusan Elektro. Ketika masa awal kuliah saya kenal teman-teman yang umumnya bintang pelajar ketika di SMA dan IP nya bagus pada saat TPB. Saya berada di jurusan yang isinya adalah anak-anak pintar dengan prestasi tinggi. Pada awal tahun 1975 ada pengumuman dari PLN tentang program Ikatan Dinas. Ketika memilih jurusan elektro sebenarnya saya sudah berfikir untuk masuk PLN karena kepada perusahaan itulah diserahkan tugas membangun dan mengoperasikan sistem ketenagalistrikan. Walaupun saya sempat mendaftar dan diterima untuk menjadi penerima beasiswa Caltex dan Supersemar yang tidak mengikat, saya membuat suatu keputusan ”besar” memilih Ikatan Dinas PLN. Pertengahan tahun 1975 itu saya sudah menerima uang ikatan dinas sebesar Rp. 25.000,- per bulan yang sangat mencukupi untuk hidup karena biaya tinggal di asrama ITB termasuk makan ketika itu hanya Rp. 4.000,- sebulan, dan sekali makan di warung Padang atau Sunda rata-rata hanya Rp. 25,-. Saya segera memberi tahu orangtua untuk menghentikan kiriman bulanan. Saya yakin ketika itu orangtua saya sangat senang karena saya sudah mendapatkan tempat bekerja dan bebannya teringankan karena saya memiliki 6 orang adik yang sedang bersekolah.

Pada tahun 1976 saya bekerja praktek di PLN Distribusi Jawa Barat dan juga di PLN Proyek Induk Jaringan Jawa Barat dan Jakarta. Saya semakin tertarik dan siap masuk PLN. Pada liburan semester tahun 1977 saya diterima kerja praktek di PT Caltex. Ini kesempatan saya pertama kali naik pesawat terbang dan sekaligus dapat berkunjung ke tempat bibi saya Ibu Hayatun Nismah yang bekerja di Caltex. Saya diperkenalkan dengan sistem ketenagalistrikan Caltex dan juga dengan sistem komputernya. Dari hubungan saya dengan pembimbing kerja praktek saya diberi kesempatan untuk ikut test pegawai Caltex. Hasilnya ternyata positif yaitu kalau saya mau setelah lulus akan diterima bekerja di Caltex. Ketika itu bekerja di perusahaan minyak seperti Caltex menjadi idola, mungkin karena gajinya relatif besar. Sekilas saya tergoda juga namun akhirnya saya mantapkan saya tetap akan memilih PLN. PLN akan memberi kesempatan saya bekerja di seluruh Wilayah tanah air dan memberikan peluang karir yang luas dan tinggi.

Pada pertengahan tahun 1978 saya kembali ke Caltex karena saya memilih tugas akhir tentang perencanaan sistem kelistrikan Caltex. Saya menyelesaikan tugas akhir tersebut dalam waktu kurang dari 3 bulan. Pada tanggal 21 Oktober 1978 saya ujian tugas akhir dan dinyatakan lulus. Pada tanggal 28 Oktober 1978 ada acara Wisuda Sarjana. Walaupun saya sudah menyelesaikan semua syarat perkuliahan ternyata saya tidak bisa iktu wisuda karena saya belum dinyatakan lulus sarjana. Untuk dinyatakan lulus seorang mahasiswa harus mendaftarkan diri ikut sidang sarjana yaitu sidang pengajar untuk menentukan kelulusan atau kelulusan bersyarat seorang mahasiswa. Saya coba berusaha tapi pembimbing saya Bapak Tunggal Mardiono menghibur bahwa tidak apa-apa ikut wisuda pada tahun 1979. Pakai saja waktu untuk mengunjungi keluarga dan beristirahat. Waktu itu saya pulang ke Payakumbuh melalui Pekan Baru namun saya hanya betah satu bulan. Pada bulan Desember saya kembali ke Jakarta dan melapor ke PLN. Sambil menunggu ijazah dan wisuda saya ditetapkan bekerja di Sub Direktorat Jaringan, Direktorat Pembangunan PLN Pusat Jakarta.

Selama kuliah di ITB disamping belajar saya aktif di Himpunan Mahasiswa Elektro sebagai Ketua Bidang Usaha dan wakil angkatan pada Majelis Permusyawaratan Angkatan. Melihat kenyataan aktivis mahasiswa kuliahnya tidak lancar saya menetapkan strategi untuk ikut aktivitas secara terbatas. Karena tinggal di asrama saya beruntung dapat bergaul dengan mahasiswa berbagai jurusan dan suku yang memberikan kepada saya pelajaran dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Saya sempat juga menjadi Sekjen Dewan Senior Asrama ITB. Pelajaran penting yang saya ambil selama kuliah di ITB adalah belajar dan sukses memerlukan strategi, strategi belajar adalah dengan memahami esensi mata kuliah pada awal dan menangkap materi pokok pada saat kuliah. Saya beruntung mengalami ”kegagalan” di wisuda pada tahun 1978, karena tidak mendaftar sidang sarjana sebelumnya. Hal tersebut memberikan pelajaran kepada saya bahwa kita tidak bisa selamanya mendapatkan yang sesuai keinginan kita dan kita tidak bisa sukses terus menerus. Dalam hidup kadang-kadang ada hambatan dan ada hal pahit yang harus ditelan. Kita harus kuat menerima kenyataan dan harus menjadi insan yang sabar dan tahan uji.

0 comments

There are no comments yet...

Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment