Biografi Herman Darnel Ibrahim (1)
Masa Kecil Sampai SMA: Hidup Perlu Perencanaan dan Buat Keputusan pada Saat yang Tepat
Saya dilahirkan di kenagarian Talang Maur Kecamatan Guguk Kabupaten Lima Puluh Kota pada tahun 1954 sebagai anak pertama dari tujuh bersaudara hasil perkawinan Ibrahim Datuak Muaro dengan Rasyidah. Ibu saya dan saudara-saudaranya dan juga ayah saya untuk ukuran pada masa itu mendapat pendidikan formal yang cukup memadai. Hal ini tidak terlepas dari peran Kakek saya ImamSaadudin yang merupakan seorang Ulama dan tokoh masyarakat di kenagarian Talang Maur dan juga Nenek saya Rabiatun yang juga relatif sudah berpendidikan formal dan yang sangat disiplin dalam mendidik anak-anaknya. Menurut Ibu saya kehidupan keluarga kami pada masa kecil saya pada mulanya tidaklah susah karena Ayah dan Ibu saya keduanya adalah guru Sekolah Dasar yang ketika saya lahir masih cukup sejahtera.
Keadaan kehidupan keluarga kami berlangsung hampir sama yaitu tetap sulitnya perekonomian sampai terjadinya peristiwa G30S PKI tahun 1965 dan terus hampir tidak berubah sampai akhir tahun 1960an. Namun beruntung saya masih dapat menamatkan Sekolah Dasar pada tahun 1966 dan menamatkan SMP di Dangung Dangung pada tahun 1969. Pada pertengahan tahun 1960an keadaan keluarga besar kami sedikit tertolong karena bibi saya Hayatun Nismah yang tadinya menjadi guru SMP dapat bekerja di PT Caltex Pacific Indonesia sebuah perusahaan minyak Amerika yang beroperasi di Riau. Paman saya yang merupakan adik kedua Ibu saya kembali dapat melanjutkan sekolah dan diterima di Falkultas Kedokteran Universitas Pajajaran Bandung tahun 1967.
Setamat SMP saya melanjutkan sekolah ke SMA I di Payakumbuh. Ketika di SMP dan SMA itu pada liburan sekolah sering saya pergi ketempat bibi saya di Pekan Baru dan disana saya sering mendengar cerita tentang lulusan ITB yang baru masuk Caltex. Saat berlibur ketika saya sudah dikelas 1 SMA bibi saya mulai menyebut nyebut dan mendorong saya untuk masuk ITB. Saya teringat ketika di SD saya pernah terbersit ingin menjadi Insinyur seperti proklamator Republik Indonesia Ir. Soekarno yang merupakan lulusan teknik sipil ITB. Akhirnya sya mulai mantap ingin masuk ITB dan menjadi Insinyur. Setelah kembali dari tempat bibi saya, saya membuat surat ke Paman saya di Bandung minta dikirimi informasi tentang ujian masuk ITB. Dalam waktu tidak lama saya dikirimi oleh paman saya buku kumpulan soal Tes masuk ITB dari tahun 1961 sampai tahun 1970. Seingat saya ketika itu dari satu sekolah saya di SMA hanya saya yang memiliki buku kumpulan ujian masuk ITB tersebut.
Setelah mulai membuka dan mengerjakan soal-soal dari kumpulan ujian masuk ITB itu saya menyadari bahwa pilihan untuk masuk ITB adalah tepat. Pelajaran yang diujikan untuk masuk ITB pada masa itu adalah Fisika Matematika, Kimia dan Biologi. Selama saya sekolah dari SD sampai SMA boleh dikatakan saya selalu mendapat ranking dikelas kalau tidak juara kelas saya menjadi juara kedua. Seingat saya ketika remaja itu saya bukan termasuk anak yang rajin belajar apalagi kutu buku. Saya tidak menyukai pelajaran yang bersifat hapalan. Saya lebih menyukai dan lebih kuat dalam pelajaran Ilmu Pasti seperti Berhitung, Aljabar dan Ilmu Ukur. Rasanya sudah sejak masa sekolah itu saya menerapkan strategi belajar dengan memfokuskan untuk mengerti dan menangkap isi pelajaran pada saat belajar dengan guru dikelas sehingga saya tidak perlu banyak mengulang pelajaran diluar jam sekolah. Salah satu yang tidak banyak diketahui oleh kawan-kawan saya adalah saya berteman dan bergaul dengan dua kelompok anak-anak yang pertama yang lebih banyak belajar dan berprestasi dan yang kedua dengan anak-anak yang kurang berprestasi dan banyak bermain. Dari kelompok yang kedua ini saya belajar dalam berkomunikasi dan sisi lain dari kehidupan remaja.
Setelah tamat SMA pada akhir 1972 sehabis ujian akhir SMA saya berangkat ke Bandung. Kami naik kapal laut Belle Abeto pada tanggal 2 Desember 1972 dari Teluk Bayur Padang. Pada akhir minggu pertama Desember 1972 tengah malam saya bersama teman sampai di Bandung dan menumpang di tempat kos kakak teman saya. Esoknya saya baru menepat dan tinggal di tempat kos paman saya. Untuk menambah peluang diterima di ITB saya langsung ikut Bimbingan Tes dengan tujuan memperkuat persiapan dalam pelajaran Kimia dan Biologi. Selain itu ternyata Bimbingan Tes bermanfaat pula untuk mengukur peluang kelulusan karena adanya try-out simulasi ujian masuk ITB.
Setelah selesai mengikuti ujian masuk ITB, pada suatu pagi di awal Maret 1972 saya mendengar di Radio bahwa hasil ujian masuk ITB telah diumumkan dan dapat dilihat di kampus ITB. Saya teringat, ketika itu juga saya bergegas menuju kampus ITB, dan setelah berada di depan papan pengumuman dengan jantung yang berdebar cepat saya melihat nomor saya tercantum disitu. Jantung saya sekan berhenti sebentar, itulah mungkin momen terbesar yang paling membahgiakan dalam hidup saya. Sekembalinya ketempat tinggal, saya memberi tahu paman saya dan juga keluarga tempat kos mereka ikut gembira dengan keberhasilan saya. Sesudah itu saya langsung menulis surat memberitahukan kelulusan saya kepada orang tua saya di Payakumbuh dan kepada bibi saya di Pekanbaru yang banyak sekali membantu dan memotivasi saya. Dari sekolah asal saya SMA I Payakumbuh hanya saya sendiri yang diterima di ITB. Walaupun tidak meluap-luap saya merasa sangat bangga atas keberhasilan saya tersebut dan segera pula saya menulis surat memberitahu dan menyampaikan terima kasih saya kepada beberapa guru saya di SMA.
Pelajaran hidup yang saya peroleh dari proses membuat keputusan, persiapan ujian sampai saya masuk ITB ini adalah bahwa tanpa saya sadari saya sudah membuat perencanaan hidup saya; saya telah membuat keputusan pada saat yang tepat yaitu keputusan masuk ITB ketika saya masih kelas I SMA, keputusan tersebut adalah awal keberhasilan saya; dan pelajaran paling penting adalah untuk sukses perlu usaha dan persiapan dan sukses bukan keberuntungan. (bersambung)
0 comments
Kick things off by filling out the form below.
Leave a Comment